Home » Perbedaan Habituasi dan Adaptasi Sensori – Faktor yang Mempengaruhi Habituasi Manusia

Perbedaan Habituasi dan Adaptasi Sensori – Faktor yang Mempengaruhi Habituasi Manusia

by psikologiku.com
128 views
Perbedaan Habituasi dan Adaptasi

Habituasi adalah kondisi yang kita menjadi terbiasa dengan sebuah stimulus sehingga secara bertahap kita makin kurang memberikan perhatian padanya. Contohnya, saat mendengarkan bunyi detik jam di dalam kamar, setelah mendengar suara detik jarum jam tersebut selama beberapa menit kita kemudian menjadi terbiasa dengan suara tersebut dan perlahan-lahan kurang memberi perhatian pada suara itu.

Faktor yang berperan dalam menentukan habituasi adalah stabilitas dan keakraban terhadap stimulus yang ada. Namun jika dari stimulus tersebut muncul atau terjadi suatu perbedaan maka perhatian kita akan terfokus kembali terhadap stimulus tersebut walaupun tidak terjadi 100%. Dua faktor yang mempengaruhi habituasi adalah stimulus internal dan pembangkit subjektif yang bervariasi. Dari kedua faktor tersebut yang paling dominan adalah variasi internal.

Dishabituasi adalah lawan dari habituasi yaitu sebuah perubahan di dalam stimulus yang dikenal mendorong kita untuk mulai memperhatikan stimulus itu lagi. Kedua proses uini berjalan otomatis, tidak melibatkan upaya sadar sedikitpun.

Adaptasi indra adalah berkurangnya atensi terhadap sebuah stimulus tetapi bukan karena keinginan dari kontrol alam sadar. Hal ini terjadi secara langsung didalam organ indera bukan di otak. Contoh: kita tidak dapat memaksakan diri kita secara sadar untuk mencium bau tubuh kita sendiri, karena hidung kita sudah terhabituasi dengan bau tersebut.

Perbedaan Antara Adaptasi Indera dan Habituasi

– Dalam adaptasi indra respon-respon berlangsung di dalam organ-organ indrawi

– Dalam habituasi, respon-respon berlangsung di dalam otak (dan berkaitan dengan pembelajaran)

Perbedaan tersebut lebih lanjut dapat dilihat pada tabel di bawah:

ADAPTASIHABITUASI
Tidak bisa diakses oleh kontrol kesadaran (contoh: anda tidak dapat memutuskan seberapa cepat anda bisa beradaptasi dengan bau tertentu)Dapat diakses oleh kontrol kesadaran (contoh: anda dapat memutuskan untuk menyadari percakapan yang ada dibelakang anda, meskipun anda sudah mampu menghabituasinya)
Berkaitan erat dengan intensitas stimulus (contoh: semakin besar intensitas terang cahaya, semakin kuat indra-indra beradaptasi padanya)Tidak berkaitan dengan intensitas stimulus (contoh: bunyi keras kipas angin tau bunyi AC yang lebih tenang)
Tidak berkaitan dengan jumlah, lamanya, dan pengulangan pengalaman sebelumnya (contoh: resptor-reseptor indra di kulit akan merespons perubahan di dalam temperature dengan cara yang pada dasarnya sama, tidak peduli berapa kali anda sudah diberitahunan perubahannya atau sebaliknya)Berkaitan erat dengan jumlah, lamanya dan pengulangan pengalaman sebelumnya (contoh: anda akan menjadi lebih cepat terhabituasi dengan bunyi detak jam saat anda sudah lebih sering mendengarnya)

Seorang psikologi lingkungan dari Cornell University bernama Nancy Wells menemukan manfaat lain dari kebun. Menurutnya lingkungan yang hijau di sekitar rumah merupakan faktor signifikan dalam melindungi kesejahteraan psikologis anak-anak di wilayah perkotaan.

Dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa situasi penuh tekanan yang terjadi dalam hidup, tampak tidak banyak menimbulkan ketegangan psikologis pada anak yang tinggal di lingkungan hijau dibandingkan anak yang tinggal di lingkungan tidak hijau. Anak-anak yang bisa menikmati lingkungan asri tersebut terlihat lebih siap menghadapi stress, ketimbang anak yang memiliki kamar tanpa pemandangan hijau.

Wells dan rekannya Gary Evans melakukan penelitian mengenai kadar alamiah disekitar rumah 337 anak kelas tiga sampai lima, dengan melihat jumlah tanaman di dalam rumah mereka, pemandangan hijau yang terlihat dari jendela kamar, dan apa materi pembentuk halaman rumah mereka misalnya terbuat dari rumput, tanah, atau beton. Pengukuran dilakukan menggunakan sebuah alat “skala kadar alamiah lingkungan perumahan.” Wells dan Evan menggunakan tes baku untuk mengukur kadar stress dalam kehidupan anak, laporan orang tua tentang tingkah laku stress anak, dan penilaian diri anak terhadap kesejahteraan psikologisnya.

Anak-anak yang dikelilingi oleh alam memiliki rentang perhatian yang lebih lama. Kemampuan untuk lebih fokus tersebut membuat anak lebih bisa berpikir dengan jernih, sehingga mereka lebih siap untuk menghadapi stress.

Related Articles

Leave a Comment